Mourinho ke Madrid menjadi gerak besar menjelang musim 2026-27, saat Real Madrid memilih kembali merekrut José Mourinho untuk mencoba memutus dominasi Hansi Flick. Langkah itu muncul sekaligus menandai upaya keras kubu Madrid menggantikan pelatih yang tengah menikmati periode kesuksesan beruntun.

Hansi Flick akan memulai musim 2026-27 di bawah arsitektur Barça dengan ambisi memperpanjang rangkaian gelar liga yang sudah membuatnya mendapat perhatian luas: tercatat dia berhasil menyambung ‘4 de 4’ berkat dua gelar di Bundesliga dan dua gelar LaLiga bersama klubnya saat ini.
Keputusan Madrid dan tantangan yang dihadapi
Keputusan Real Madrid untuk mendatangkan kembali José Mourinho dipandang sebagai respons langsung terhadap konsistensi tinggi yang diperlihatkan Flick. Klub ibu kota memandang perlu mengajukan solusi berpengalaman untuk menggoyang keseimbangan kekuatan di kompetisi domestik.
Langkah ini menempatkan Mourinho kembali ke kancah LaLiga dengan beban ekspektasi besar: menggulingkan pelatih yang dianggap berhasil mempertahankan standar kemenangan sepanjang dua musim terakhir. Meski reputasi Mourinho tetap bersinar, catatan terakhirnya meraih gelar liga di negara-negara yang ia latih terjadi 11 tahun lalu, pada 2015, sebuah fakta yang menambah bahan perbincangan mengenai peluang keberhasilan di musim mendatang.
Bagaimana dominasi Flick tercapai
Hansi Flick telah mengumpulkan empat gelar liga berurutan—kombinasi dua titel Bundesliga dan dua titel LaLiga—yang membuat namanya kian diperhitungkan. Keberlanjutan prestasi tersebut menjadi elemen utama mengapa Real Madrid merasa perlu melakukan perubahan taktis dan kepelatihan.
Dominasi seperti ini tidak hanya soal satu musim, melainkan konsistensi yang menekan rival untuk melakukan reaksi cepat. Dalam konteks itu, perekrutan Mourinho bisa dibaca sebagai langkah strategis untuk mengembalikan daya saing tim di level domestik.
Dinamika di Bernabéu
Sukses Flick juga membawa dampak langsung pada kubu lawan. Dalam rentang dua musim terakhir, pencapaian Flick disebut-sebut berkontribusi pada keluarnya tiga pelatih dari posisi mereka di Bernabéu: Carlo Ancelotti, Xabi Alonso, dan Álvaro Arbeloa. Perubahan beruntun ini memperlihatkan tekanan besar yang dirasakan dari luar maupun dalam klub besar saat target juara tidak tercapai.
Dengan kembalinya Mourinho, kubu Madrid berharap mendapatkan figur yang mampu menstabilkan situasi dan memberi solusi praktis untuk meraih kembali dominasi di kompetisi liga. Namun, catatan bahwa gelar liga terakhir Mourinho di negara tempat dia melatih adalah pada 2015 menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi bukan hanya soal nama besar, tetapi juga adaptasi terhadap realitas kompetitif saat ini.
Musim 2026-27 diprediksi akan menjadi ujian keras bagi kedua pihak: Flick yang berusaha mempertahankan laju kemenangan dan Mourinho yang kembali dengan misi menghentikan hegemoni. Perubahan ini membuka babak baru persaingan yang dipastikan akan menjadi sorotan utama pengamat dan penggemar LaLiga saat kompetisi dimulai.

